Geostrategi Indonesia dan Ketahanan Nasional

GEOSTRATEGI INDONESIA
A.    Pendahuluan
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan lautan dengan 17.508 pulau-pulau besar dan kecil. Total luas wilayah Indonesia adalah Sembilan juta kilometer persegi, terdiri dari tiga juta kilo meter persegi dalam bentuk daratan pulau-pulau, tiga juta kilo meter persegi perairan laut kedaulatan (sovereignity) yaitu perairan diantara atau sekeliling pulau-pulau tersebut, serta tiga juta kilo meter persegi lagi berupa perairan laut yang mengelilingi laut kedaulatan sebagai sabuk sebesar 200 mill laut dengan hak berdaulat (sovereign rights) di atas maupun di bawah permukaan, serta lapisan bawah dasar lautny. Ditinjau dari konstelasi geografis, posisi Indonesia sangat strategis karena berada pada posisi silang dunia yakni berada diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta di antara Benua Asia dan Benua Australia, yang juga merupakan jalur lalu lintas dunia baik laut maupun udara yang sangat padat.
Terdapat banyak teori yang merumuskan kekuatan pengaruh sebuah bangsa dan Negara, salah satunya adalah Hans Morgenthau dalam bukunya “Politics Among Nations”, mengemukakan unsure-unsur kekuatan nasional sebagai berikut (1) Geografi, (2) Sumber alam, (3) Kapasitas industry, (4) Kesiapsiagaan militer, (5) Penduduk, (6) Karakter nasional, (7) Semangat nasional, (8) Kualitas diplomasi, (9) Kualitas pemerintahan.

B.     Pengertian Geostrategi
Pengertian geopolitik maupun geostrategi keduanya diikat oleh pengertian dan unsur yang sama yaitu “Geo” yang berasal dari kata geografi. Hubungan antara geopolitik dan geostrategi adalah terleteak pada strategi. Maksudnya istilah strategi merupakan politik (politik nasional), atau geostrategi adalah pelaksanaan dari geopolitik. Oleh karena itu geostrategi adalah suatu strategi atau pelaksanaan suatu kebijakan politik yang disusun atas dasar pertimbangan geografis. Hubungan antara strategi dengan geostrategi di satu sisi dengan politik dan geopolitik di sisi lain tampak sangat erat. Ini sesuai dengan perkembangan abad ke-20 ketika politik dan strategi merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Walaupun pada awalnya istilah strategi selalu diidentikkan dengan perang, militer atau pertahanan. Dalam perspektif klasik, pengertian lain dari geopolitik dan geostrategi yaitu definisi sempit yang hanya meliputi bidang pertahanan. Kata strategi berasal dari kata “Strategia”, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “the art of general” atau seni seorang panglima yang bisa digunakan dalam peperangan. Karl Von Clausewitz (1780-1831) berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan. Sedangkan perang itu sendiri merupakan kelanjutan dari politik.
Dalam abad modern sekaran ini penggunaan kata stratgei tidak laig terbatas pada konsep atau seni seoran panglima dalam peperangan saja, akan tetapi sudah digunakan secara luas termasuk dalam ilmu ekonomi maupun di bidang olahraga. Arti strategi salam pengertian umum adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau terciptanya suatu tujuan termasuk politik.
Oleh karena itu, kata strategi tidak hanya menjaid monopoli para jenderal atau bidang militer saja, tetapi telah meluas ke segala bidang kehidupan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu yang menggunakan dan mengembangkan kekuatan-kekuatan (ideologi politik, ekonomi, sosial, budya dan pertahanan-kemanan) untuk mencapai tujuan yang telalh ditetapkan sebemunya.
Dapat disimpulkan seperti yang diungkapkan Purbo S. Suwondo (2009) bahwa definisi geostrategi dapat dibagi:
1.      Suatu cabang geopolitik yang berhubungan dengan strategi (a branch of geopolitics that deals with strategy).
2.      Sebuah kombinasi faktor geopolitik dan strategis yang memberikan ciri terhadap wilayah geografis tertentu (the combination of geopolitical and strategic factors characterizing aparticular geographic region).
3.      Penggunaan oleh pemerintah strategi yang didasarkan pada geopolitik (the use by a government of strategy based on geopolitics).
Dalam teori geostrategi terdapat dua pendapat. Pertama, aliran determinis yang mempunyai pengertian sempit dan mutlak. Kedua, aliran posibilis yang mempunyai pengertian luas dan tidak mutlak. Geostrategi dapat pula dikatakan sebagai pemanfaatan kondisi lingkungan dalam upaya mewujudkan tujuan politik. Sedangkan geostrategi Indonesia adalah strategi dalam memanfaatkan konstelasi geografi negara Indonesia untuk menentukan kebijakan, tujuan dan sarana-sarana untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia. Geostrategi Indonesia memberikan arahan tentang cara merancang strategi pembangunan untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan negara Indonesia. Oleh karena itu, geostrategi Indonesia bukanlah merupakan geopolitik untuk kepentingan politik dan perang, melainkan untuk kepentingan kesejahteraan dan kemanan.
Geostrategi Indonesia sebagai pelaksanaan geopolitik Indonesia memiliki dua sifat pokok sebagai berikut:
1.      Bersifat daya tangakal
Dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalan, geostrategi Indonesia ditujukan menangkal segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan (ATHG) terhadap identitas, integritas, serta eksistensi bangsa dan negara Indonesia.
2.      Bersifat developmental/pengembangan
Maksudnya adalah pengembangan potensi kekuatan bangsa dalam ideology, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan sehingga tercapai kesejahteraan rakyat.

C.    Ketahanan Nasional Sebagai Landasan
Konsepsi analitis tentang Ketahanan Nasional (Tannas) lahir pada tahun 1972 yang merumuskan bahwa Tunnas adalah “Kondisi dinamik suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional di dalam mengatasi dan menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan gangguan (ATHG), baik dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mengejar tujuan perjuangan nasional.”
Ketahanan nasional pada hakikatnya adalah kekuatan nasional dalam arti luas, dengan demikian unsur-unsur ketahanan nasional mencakup “Astagatra” yaitu geografi, demografi, sumber kekayaan alam, ideology, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan-keamanan. Menurut Wan Usman (2003), ketahanan nasioanl (Tannas) adalah kondisi dinamis suatu bangsa berisi keuletan dan ketangguhan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam mengahadapi ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan) baik dari dlaam maupun dari luar negeri. Dapat dipandang sebagai dua sisi mata uang dengan dua sisi yakni kemanan (security) dan kesejahteraan (prosperty). Keduanya berjalan seimbang antara kesejahteraan dan keamanan mengandung muatan utama yakni partisipasi masyarakat yang demokratis. Konsep ketahanan nasional suatu bangsa dan negara dilatar belakangi oleh faktor-faktor:
1.      Kekuatan apa yang ada pada suatu bangsa dan negara sehingga ia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya
2.      Kekuatan apa yang harus dimiliki oleh suatu bangsa dan negara, sehingga ia selalu mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, meskipun mengalami berbagai gangguan, hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar
3.      Ketahanan (kemampuan) suatu bangsa untuk tetap jaya, mengandung mana keteraturan dan stabilitas yang didalmnya terdapat potensi untuk terjadinya perubahan.
Sedangkan menurut Lemhanas, yang dimaksud dengan konsep ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan seta ganguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mengejar tujuan nasional (Lemhanas, 1972).
Penjelasan faktor-faktor yang melatarbelakangi konsep ketahanan nasional di atas, seperti yang dijelas kan Wan Usman (2003) adalah sebagai berikut:
1.      Faktor pertama di atas digunakan untuk menjawab What it is …
2.      Faktor kedua digunakan untuk menjawab What Should be …
3.      Faktor ketiga bertumpu pada filsafat alam semesta yang dikaji oleh Rene Thom, yakni fenomena alam itu bersifat regular dan stabil yang ada didalmanya terdapat ide tentang perubahan. Bangsa dan negara dilihat dari segi filsafat alam semesta adalah fenomena alam, jadi ia tunduk pada hukum alam yang teratur dan stabil. Namun demikian di dalam keteraturan dan stabilitas itu erkandung di dalamnya the idea of changes.

Berdasarkan uraian di atas, makna ketahanan nasional dapat didefinisikan sebagai kondisi dinamis suatu bangsa yang meliputi semua aspek kehidupan untuk tetap jaya di tengah keteraturan dan perubahan yang selalu ada untuk mencapai tujuan nasional suatu bangsa, dan oleh karenanya harus mempunyai kekuatan, kemampuan, daya tahan dan keuletan. Dengan demikian jelaslah, bahawa ketahanan nasional harus diwujudkan dengan menggunakan baik pendekatan kesejahteraan maupun pendekatan keamanan.
Ketahanan nasioanl sebagai kondisi sesuai dengan konsepsi maka kondisi tersebut dimaksud mengandung pemahaman kemampuan untuk menyusun seluruh kekuatan yang dimiliki suatu bangsa. Kekuatan ini diperlukan untuk mengatasi dan menanggulangi berbagai bentuk ancaman yang ditujukan terhadap bangsa dan negara. Ketahanan nasional sebagai strategi dilaterbelakangi oleh masalah survival suatu bangsa dan negara, akan tetapi bahaya yang mengancam kelangsungan hidup di tiap negara tidak sama baik dalam bentuk atau mecam bahaya yang mengancam mauapun situasi dan kondisi tiap negara berlainan. Memperhatikan kenyataan demikian, maka akan berbeda pula dalam menentukan cara yang dipilih untuk mempertahankan kelangsungan hidup akan tidak sama. Dengan kata lain, dengan memperhatikan macam bahaya yang mengancam serta situasi dan kondisi dalam negara yang bersangkutan, maka ditentukanlah strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup negara tersebut.
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang merupakan integrasi dari setiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara. Kondisi dinamis bangsa yang merupakan keuletan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan dari dalam dan luar. Berhasilnya pembangunan nasional akan meningkatkan ketahanan nasional. Selanjutnya ketahanan nasional yang tangguh akan mendorong pembangunan Indonesia. Unsur ketahanan nasional model Indonesia mencakup beberapa aspek yaitu:
1.      Trigatra adalah aspek alamiah (tangible): penduduk, sumber daya alam, dan wilayah
2.      Pancagatra adalah aspek sosial (intangible) yang terdiri dari ideology, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Dalam menjaga ketahanan nasional Indonesia sebagai nation-state, tentu berbagai ancaman/tantangan/gangguan/hambatan tersebut sangan terbuka. Dinamika kehidupan dunia Internasional yang terkonstruksi dalam konsep globalisasi telah membuat batas-batas suatu negara menjadi kabur. Terbangunnya global citizenship dan global village sebagai prosuk khas globalisasi (John Naisbitt, 1994). Eksistensi negara dan bangsa makin dipertaruhkan di tengah keterbukaan berbagai aspek informasi, transportasi dan teknologi.
Ancaman yang muncul bagi suatu entitas negara dan bangsa tidak lagi berbentuk ancaman militer, tetapi juga berupa ancaman non-militer. Bisa dikatakan bahwa ancaman bagi eksistensi Indonesia sebagai entitas negara dan bangsa lebih berbentuk multidimensi. Maka dibutuhkan strategi yang konstruktif dan jitu agar tercapainya national security (keamanan nasional) dan national prosperity (kesejahteraan nasional). Aspek-aspek nasional yang disebutkan di atas mesti dikelola agar tujuan nasional tercapai.
Maka dapat disimpulkan bahwa geostrategi Indonesia ditegaskan wujudnya dalam bentuk rumusa ketahanan nasional sebagai kondisi, metode, dan doktrin dalam pembangunan nasional.

D.    Model Ketahanan Nasional
D.1. Model Lemhanas
Model ini berevolusi sejak tahun 1968 hingga mencapai bentuk analitisnya yang terakhir pada 1982. Model Tannas dengan konsep “astra gatra”/delapan gatra ini yakni meliputi:
1.      Kondisi geografi
2.      Kondisi demografi
3.      Kondisi kekayaan alam/sumber daya alam
4.      Kondisi pemahaman ideology
5.      Kondisi system politik
6.      Kondisi system ekonomi
7.      Kondisi system sosial budaya
8.      Kondisi pertahanan dan keamanan
D.2. Model Morgenthau
            Model ini bersifat deskriptif kualitatif dengan jumlah gatra yang banyak. Morgenthau mengadakan observasi atas tata kelola kehidupan nasional secara makro dilihat dari luar. Sehingga ketahanan nasional ditampilkan dengan gatra seperti di bawah ini:
1.      Kemampuan geografi
2.      Kemampuan sumber daya alam
3.      Kemampuan industry
4.      Kemampuan militer
5.      Kemampuan demografi
6.      Karakter nasional
7.      Moral nasional
8.      Kualitas diplomasi
D.3. Model Cline
            Cline melihat kemampuan suatu negara dari luar, sehingga yang terlihat adalah wajah kekauatan suatu negara yang dilihat dan dipersepsikan oleh negara lain. model cline ini menjelaskan jika hubungan antara negara pada hakikatnya amat dipengaruhi oleh persepsi suatu negara terhadap negara lainnya. Sehingga ketahanan nasional ditampilkan dengan gatra seperti di bawah ini:
1.      Critical mass, yaitu sinergi antara potensi demografi dengan geografi
2.      Kemampuan ekonomi
3.      Kemampuan militer
4.      Strategi nasional
5.      Kemauan nasional atau tekad rakyat untuk mewujudkan strategi nasional
D.4. Rumusan Daoed Jousoef
             Menurut Daoed Jousoef (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), ketahanan nasional adalah kekuatan, kemampuan, daya tahan, dan keuletan yang menjadi tujuan suatu bangsa untuk mengahadapi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan yang datang dari luar ataupun dalam, yang secara langsung atau tidak langsung membahayakan kelangsungan bangsa dan negara.

E.     Asas-asas Ketahanan Nasional Indonesia
E.1. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
            Kesejahteraan dan keamanan merupakan kebutuhan yang mendasar dan esensial bagi manusia, sehingga ini merupakan asas dalam system ketahanan nasional Indonesia sebab tanpa kesejahteraan dan keamanan kehidupan nasional tidak dapat berlangsung (merupakan nilai intrinstik). Realistisnys, baik kesejahteraan maupun keamanan harus selalu ada, berdampingan dalam kondisi apapun. Dalam kehidupan nasional tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional yang dicapai merupakan tolak ukur ketahanan nasional.
E.2. Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu
            Perwujudannya dalam persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi dan selaras dan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegeara. Dengan demikian ketahanan nasional mencakup ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh menyeluruh terpadu (komprehensif ingral).
E.3. Asas Mawas ke dalam dan ke luar
            1). Mawas ke dalam
                        Tujuannya yaitu untuk menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri,berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh.
2). Mawas ke luar
                        Tujuannya yaitu agar dapat mengantisipasi dan ikut berperan serta menghadapi dan mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri serta menerima kenyataan adanya saling interaksi dan ketergantungan dengan dunia Inernasional. Untuk dapat menjamin kepentingan nasional harus mampu mengembangkan kekuatan nasional agar dapat membeikan dampak ke luar dalm bentuk “daya tangkal” dan “daya tawar”. Namun interaksi dengan pihak lain dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan tetap diumumkan.
F.      Sifat-sifat Ketahanan Nasional Indonesia
1.      Mandiri
Percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integrasi dan kepribadian bangsa.
2.      Dinamis
Ketahanan nasional tidaklah tetap melainkan dapat meningkatkan maupun menurun tergatung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara serta kondisi lingkungan strategisnya.
3.      Berwibawa
Keberhasilan pembinaan ketahanan nasional Indonesia secara berlanjut dan berkesinambungan akan meningkatkan kemampuan dan kekuatan bangsa yang dapat menjadi faktor yang diperhatikan pihak lain. Makin tinggi tingkat ketahanan nasional Indonesia makin tinggi pada nilai kewibawaan nasional yang berarti makin tinggi tingkat daya tangkal yang dimiliki bangsa dan negara Indonesia.
4.      Konsultasi dan Kerjasama
Konsepsi ketahanan nasional Indonesia tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih pada sikap konsultatif dan kerjasama serta saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian bangsa.

G.    Tantangan dan Pembinaan Ketahanan Nasional
Dalam usaha menciptakan ketahanan nasional yang tangguh, maka pembinaan ketahanan nasional sangat diperlukan. Oleh karena itu pembinaan ketahanan nasional adalah merupakan proses transformasi sumber daya secara efisien dan ekonomis, untuk menghasilkan spectrum kemampuan dan kekuatan berupa daya kekebalan, daya berkembang dan daya tangkal system kehidupan manusia.
G.1. Aspek Demografis
            Sebagaimana yang dijelaskan dalam teori Robert Malthus bahwa penduduk akan bertambah menurut “deret ukur”, sedangkan produksi pangan akan bertambah menurut “deret hitung”. Maka permasalahan-permasalahan fundamental dalam konteks penduduk adalah tidak adanya pengendalian pertumbuhan penduduk, tidak meratanya distribusi penduduk, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya fasilitas pendidikan, jaminan sosial kesehatan masyarakat dan kerawanan konflik horizontal.
            Pengendalian pertumbuhan penduduk mesti dilakukan secara konsisten dari pemerintah pusat dan daerah. Konsep keluarga berencana mesti terus digalakkan secara massif kepada masyaratak. Dimulai dari pejabat negara yang memberikan teladan pada masyarakat. Kemudian distribusi penduduk diselesaikan dengan beberapa strategi diantaranya program transmigrasi. Sampai saat ini program transmigrasi tetap dijalankan oleh pemerintah untuk pemerataan distribusi penduduk, yang tak hanya terpusat di Pulau Jawa. Program transmigrasi mesti diikuti oleh pemahaman kebudayaan yang luas dan mendalam bagi kelompok pendatang dan kelompok penerima.
            Kemudian pemerataan pendidikan tentunya menjadi hal vital untuk pemberdayaan penduduk. Kita tahu bahwa anggaran pendidikan saat ini sudah direalisasikan 20% dari APBN dan APBD. Anggaran pendidikan sekitar 200 triliyun mesti dialokasikan untuk pembangunan fasilitas dan akses pendidikan yang terbuka bagi masyarakat sampai ke pelosok daerah.
            Terkahir adalah jaminan sosial dan kesehatan bagi masyarakat yang masih minim. Kesehatan merupakan parameteh bagi pembangunan masyarakat. Akses kesehatan yang belum merata sampai ke pelosok daerah harus dijawab dengan pembangunan infrastruktur rumah sakit, puskesmas dan distribusi tenaga dokter, perawat dan bidan yang menjangkau ke pelosok daerah.



G.2. Aspek Geografi
            Ancaman yang muncul dalam konteks geografis adalah masalah wilayah perbatas, pengelolaan wilayah perbatasan, penduduk di wilayah perbatasan, pemanfaatan pulau-pulau terluar, masalah garis batas wilayah negara dan pembangunan di wilayah atau posisi strategis. Masalah wilayah negara tentu hal yang penting dan sangat subtantif dalam berbicara negara. Konsep wilayah negara Indonesia yang tertuang dalam UU No. 43 Tahun 2008 tentang wilayah negara, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan yang berciri nusantara mempuyai kedaulatan atas wilayahnya serta memiliki hak-hak berdaulat diluar wilayah kedaulatannyadan kewenangan tertentu lainnya untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
            Apalagi jika kita melihat beberapa tahun ke belakang. Lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan telah menorahkan luka dalam penegakkan kedaulatan wilayah negara. Maka perlu kesadaran teritorial untuk masyarakat. Harus ada sikap yang tegas kepada negara lain terhadap posisi dan eksistensi kewilayahan kita, agar negara tetangga tidak semena-mena mengklaim wilayah negara kita. Pulau-pulau terluar yang berpotensi disengketakan dengan negara tetangga harus dirawat dan dikelola. Ditempatkanlah pos-pos TNI di sana untuk memperthankannya.
G.3. Aspek Sumber Daya Alam
            Aspek ketahanan nasional yang tak kalah penting adalah pengelolan sember daya alam. Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi sumber daya alam, tetapi menjadi negara yang gagap untuk mengelola sumber daya yang melimpah ini. Masalah yang menjadi potensi ancaman bagi sumber dayaalam kita adalah pengeksploitasian sumber daya alam yang berorientasi pada keuntungan ekonomis semata. Sehingga eksploitasi dilakukan dengan tak mementingkan keanekaragaman biologis dan lingkungan. Pelestarian lingkungan dijadikan nomor terakhir, yang penting kekayaan alamnya bisa dikeruk dan diperolehlah keuntungan ekonomis yang besar. Eksploitasi kekayaan alam tidak memperhatikan pelestarian lingkungan. Kemudian perusahaan-perusahaan yang diberikan hak oleh pemrintah, untuk mengelola potensi kekayaan alam suatu daerah acap kali beroperasi tanpa mengindahkan local wisdom masyarakat setempat. Perusahaan mesti menghargai hukum-hukum local dan ramah terhadap budaya setempat.
G.4. Aspek Ideologi
            Aspek terpenting dari ketahanan nasional adalah ideology negara. Di tengah globalisasi saat ini yang menguburkan batas-batas wilayah, kabudayaan, interaksi antar bangsa membentuk suatu system global. Analisis sosial politik ini sangat logis dan empiris karena eksistensi negara-negara saat ini mulai terkurangi, karena muahnya perangkat teknologi, informasi dan komunikasi mengantikan perangkat politik,sosial dan kebudayaan dari suatu negara. Sebagai negara yang berpenduduk besar, wilayah negara yang luas dengan sumber daya alam melimpah, posisi strategis Indonesia mutlak menjadi idaman bany negara di dunia.
            Interaksi yang luas antar negara terjadi demikian terbukanya. Klaim bahwa globalisasi dan neo-liberalisme adalah pasar bebas dan demokrasi liberal merupakan sebuah sinonim. Hal ini diungkapkan Francis Fukuyama sebagai seorang futuris yang membela neo-kapitalisme global. Tentu konsekuensi logisnya adalah masuknya ideology barat yang identik dengan liberalsime dan kapitalisme, yang nyata-nyata menjadi ancaman bangsa Indonesia sekarang.
            Kemudian interaksi yang begitu terbuka antar penduduk dunia, membentuk komunitas global yang hidup tanpa sekat-sekat lokalitas, tradisi, kebudayaan, agama, atau primordialisme. Masyarakat yang saling berinteraksi dengan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi, memiliki dampak positif sekaligus negatif.
            Cara yang efektif untuk mencegah makin meluasnya pengaruh ideologi asing dan system nilai dari luar yang tidak kompatibel dengan kebudayaan nasional Indonesia adalah pendidikan. Maka tentu urgensi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganearaan saat ini adalah sangat menentukan dalam pembentukan karakter bangsa. Pemahaman keagamaan dan kebangsaan dipupuk sejak dini dengan mengedepankan dialog bukan doktrinisasi. Dengan pendidikan yang bersifat dialogis akan terbangun keterbukaan dan kejujuran alam proses pembelajaran bahwa Indonesia memiliki karakter tersendiri. Sistem nilai yang dianut dalam konteks kebangsaan jangan sampai tergeser oleh nilai-nilai luar.
G.5. Aspek Politik
            Dinamika politik tanah air pasca reformasi secara permukaan menunjukkan bahwa demokrasi telah kita nikmati bersama. Rezim otoriter telah tumbang digantikan oleh proses demokrasi yang sedang diupayakan secara substantive oleh masyarakat (negara). Proses demokrasi tersebut diawali dengan amandemen konstitusi UUD 1945 yang dilakukan pasca reformasi 1998. Namun banyak hal yang patut disayangkan karena ternyata harapan kita berdemokrasi secara Pancasila, direduksi menjadi dimokrasi yang cenderung liberal. Masuknya system demokrasi liberal yang bertentangan dengan sila kerakyatan Pancasila. Pada tahapan ini demokrasi masih dimaknai secara procedural dan lebih mengedepankan hak. Tuntutan yang tinggi akan pemenuhan hak disalah guanakan menjadi kebebasi tanpa batas, di bawah bendera demokrasi. Terjadi penyelewengan definisi terhadapa hak asasi manusia dan demokrasi. Demokrasi liberalism di Indonesia kemudian ditunjukkan kepada realita politik yang transaksional ekonomis. Pelaksanaan pemilu/pemilukada langsung dikonversi menjadi transaksi ekonomis antara partai politik calon kepala daerah konstituen. Tak sedikit konflik horizontal yang berbentuk kekerasan menghiasi pesta demokrasi rakyat tersebut. Alih-alih kebebasan menyampaikan pendapat, namun yang terjadi malah sikap anarkis.
G.6. Aspek Ekonomi
            Harapan akan terwujudnya ketahanan ekonomi yaitu kondisi kehidupanperkonimian bangsa yang berlandaskan temokrasi ekonomi, berlandaskan Pancasila yang mampu memelihara stabilitas ekonomi, akan menjadi utopia belaka jika yang dilaksanakan saat ini adalah system ekonomi liberal-kapitalis. Liberalisme ekonomi yang tengah merasuki system perkonomian kita bukan ilusi, tapi kenyataan. Demokrasi ekonomi yang diamanahkan dalam UUD 1945 pasal 33 ayat (1) yaitu “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asasn kekeluargaan”, tinggal tulisan belaka.
            Secara makro orientasi kebijakan ekonomi pemerintah lebih memihak kepada kaum pemodal (lokal dan asing). Ekonomi makro menjadi cita-cita dan parameter pertumbuhan,bukan secara nyata melihat kehidupan masyarakat. Masuknya modal asing besar dari luar karena ruang yang terbuka oleh pemerintah kian merugikan rakyat kecil. Akibatnya semakin besar ketergantungan kepada pemodal asing. Mka makin jelas kesenjangan ekonomi antara masyarakat dengan pemilik modal.
            Agar stabilitas ekonomi terjaga dalam rangka ketahanan nasional, solusi yang dilakukan tak lain adalah penguatan kembali ekonomi kerakyatan seperti yang dijelaskan dalam UUD 1945. Kemudian kebijakan ekonomi pemerintah yang harus pro terhadap pemberdayaan eknomi masyarakat kecil, bukan kaum pemodal. Distribusi ekonomi harus menyentuh daerah-daerah polosok. Maka pembangunan infrastrukur berupa jalan ya, ketersediaan transportasi yang memadai dan akses yang luas bagi daerah adalah jawaban agar terbangunnya ekonomi rakyat. Jika ekonomi rakyat terbangun dan kuat maka dengan sendirinya ketahanan ekonomi akan tercipta.
G.7. Aspek Sosial Budaya
            Ketahanan sosial budaya merupakan kondisi sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan Pancasila yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial budaya manusia dan masyarakat Indonesia. Realita sosial budaya sekarang ini menunjukkan jika bangsa Indonesia tengah menghadapi krisis moral dan kebudayaan. Memang tidak bisa menyalahkan faktor luar saja, tetapi kita mesti lihat bagaimana konstruksi rasa ke Indonesiaan kita. Faktor yang berasal dari dalam juga memperngaruhi, seperti tidak adanya contoh yang baik dari para elit.
            Merosotnya tradisi gotong royong, nilai-nilai multikulturalisme dalam kehidupan. Untuk memperbaiki kondisi ini maka diperlukan upaya kolektif berbagai elemen masyarakat. Para pemimpin berikanlah pendidikan politik yang mencerahkan bagi masyarakat. Tampilkan perilaku negarawan bukan politisi. Di sisi lain pendidikan diharapkan mampu menggapai hati para generasi bangsa. Tugas para pendidik agar terbangunnya dunia pendidikan yang mencerdaskan sekaligus mencerahkan.
            Merostnya moral agama yang mendukung perdamaian dan ketentraman mesti dijawab dengan pendidikan beragama yang menyejukkan. Penguatan tokoh agama, organisasi keagamaan (MUI, NU, Muhammadiyah, Persis, KWI, PGI, PHDI, Walubi, dsb), untuk mengkampanyekan nilai-nilai perdamaian, toleransi.
G.8. Aspek Pertahanan dan Keamanan
            Salah satu kunci dalam konsep ketahanan nasional adalah stabilitas pertahanan dan keamanan. Orientasi dalam konteks tehanan nasional yaitu ibarat sisi mata uang. Yakni terciptanya keamanan dan tercapainya kesejahteraan. Makadiperlukan konsep-konsep pertahanan dan keamanan yang kuat dan efektif bagi stabilitas noasional. Alat negara yang bernama TNI dan Kepolisian secara normative mesti menjalankan fungsinya sesuai undang-undang yang berlaku. Pertahanan negara adalah segala usaha untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara. Kemudian Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan negara untk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah, dan melindungi keselamatan bangsa, menjalankan operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang, serta ikut secarat aktif dalam tugas pemeligaraan perdamaian regional dan internasional.
            Aspek pertahanan dan ketahanan sebagai gatra ketahanan nasional bisa diwujudkan melalui pendidikan bela negara. Menurut Tb. Hasanuddin (2014) bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaanya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamn kehidupan berbangsa dan bernegara.
            Dalam UU pertahanan No. 3 Tahun 2002 Pasal 9 ayat (2), disebutkan bahwa bentuk nyata keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara adalah:
a.       Pelatihan kewarganegaraan
b.      Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib
c.       Pengabdian sebagai prajurit Tentarai Nasional Indonesia secara sukarela atau secara wajib
d.      Pengabdian sesuai dengan profesi
H.    Geostrategi dan Pembangunan Nasional
Wawasan nusantara, ketahanan nasional danpembangunan nasional termasuk dalam hirarki dominan. Maka implikasi model ketahanan nasional terutam akan dilihat pada pendekatan pembangunan nasional, terutama akan dilihat pada pendekatan pembangunan nasional. Pembangunan nasional yang dilaksanakan dalam wadah kesatuan wilayah yang berbentuk sebagai kepulauan, pada dasarnya berupa proses pembangunan yang berlangsung di wilayah-wilayah yang terdiri dari laut dan pulau-pulau. Dengan demikian pendekatan system, maka masalah kethanan nasional saling ketergantungan dan kterkaitan antar wilayah pembangunan adalah sentral dalam mewujudkan ketahanan nasional secara keseluruhan.
Pembangunan nasioanal pada dasarnya akan menentukan kondisi ketahanan nasional. Begitupula sebaliknya ktahanan nasional yang berhasil diwujudkan akan mendorong pembangunan nasional selanjutnya. Pembangunan nasional yang menghasilkan dan mewujudkan hajat hidup orang banyak, paling hakiki adalah kesejahteraan dan keamanan. Semua itu mengandung tiga komponen uang memerlukan pelaksanaan secara serentak, yaitu:
a.       Pengembangan fisik untuk pertumbuhan fisik bangsa dan negara
b.      Pembaruan, yaitu proses moralistic untuk meningkatkan semangat nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
c.       Modernisasi atau proses perubahan kebiasaan dan cara berpikir yang dinamis dan responsive terhadap perubahan lingkungan, dengan tetap memelihara nilai-nilai dasar yang baik dan dapat digunakan
Sebagai penutup pembahasan di atas, penting diingat bahwa pembangunan nasional merupakan upaya nyata untuk mencapai tujuan/cita-cita nasional. Maka geostrategic menjadi cara/strategi nasional yang merupakan implementasi dari geopolitik. Geostrategi dan geopolitik menyediakan bangsa Indonesia bahwa Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa memilki posisi strategis baik dalam konteks kawasan maupun dalam pergaulan Internasioanl. Maka konsep ketahanan nasional adalah kunci utama dan vital bagitercapainya dan terjaganya keutuhan bangsa.
I.       Penutup
Ketahanan nasional adalah perwujudan dari geostrategi Indonesia. Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara. Kondisi dinamis bangsa yang merupakan keuletan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan dari dalam dan luar. Ketahan nasional menjadi kondisi, doktrin dan metode pembangunan bangsa Indonesia ang terwujud dalam berbagai kebijakan pemerintah. Unsur ketahanan nasional model Indonesia mencakup beberapa aspek yaitu:
a.       Trigatra adalah aspek alamiah (tangible) : penduduk, sumber daya alam, dan wilayah (geografis)

b.      Pancagatra adalah aspek sosial (intangible) yang terdiri dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.

Related Posts:

0 Response to "Geostrategi Indonesia dan Ketahanan Nasional"

Post a Comment